Blogger Template by Blogcrowds

Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akan segera mengeksekusi bekas walikota Medan Abdillah. Ia sebelumnya dinyatakan bersalah oleh Mahkamah Agung dan dikenai pidana selama 4 tahun penjara.

"Kami siap mengeksekusi," kata Direktur Penuntutan Ferry Wibisono saat dihubungi lewat telepon, Rabu (15/7/2009).

Menurut Ferry, saat ini pihaknya sedang menunggu salinan putusan dari MA. Jika salinan sudah diterima, pelaksanaan eksekusi bisa dilakukan segera.

"Kalau sudah terima, kita langsung eksekusi," tegasnya.

Terkait hukuman pidana dan denda yang lebih rendah, Ferry mengaku tidak bisa berbuat apa-apa. Putusan kasasi merupakan hal yang harus diterima.

"Kalau sudah kasasi kita tidak bisa berbuat apa-apa," tegasnya.

Sebelumnya, Abdillah divonis 4 tahun penjara dan denda Rp 300 juta oleh MA. Ia juga diwajibkan membayar uang pengganti sebesar Rp 12,1 miliar. Di tingkat banding, ia divonis 4 tahun dengan uang pengganti sebesar Rp 23 miliar.

Pada pengadilan tingkat pertama, Abdillah divonis lima tahun penjara, denda Rp 250 juta dan uang pengganti Rp 17,8 miliar.



Terimakasih ya, buat bang Mahir yang sudah memberikan award ini. Setelah membaca ulasan lengkapnya, sekilas pemberian award ini jadi seperti MLM ya, pakai upline dan downline. Hanya saja ini tentang berbagi link dan bukan berbagi duit. Tapi, hasilnya bagus buat SEO. Jadi, pastilah daku turut bergabung juga

Karena award ini harus dibagi-bagikan juga kepada teman-teman yang lain, maka aku berikan kembali award ini kepada kawan-kawan:

1.Save Energy
2.CoMeL
3.Agust
4.temankoe
5.dio
5.Ronny
7.Best PTC
8.duidgenderuwo
9.Risal
10. semar

Yang perlu diingat, award ini bukan sekedar pajangan. Tapi berguna untuk menambah backlink ke blog kawan-kawan. Caranya gampang:
Tuliskan kembali link-link berikut ini di artikel atau letakkan di side bar. Tapi kawan-kawan harus menghapus link yang di nomor satu dan menaikkan link nomor 2 menjadi nomor 1. Lalu yang nomor 3 menjadi nomor 2, begitu seterusnya. Dan tempat kawan-kawan adalah di link nomor 10.
Linknya adalah:
1.Google
2.AeArc
3.Surya Tips
4.Antaresa Mayuda
5.Baca Buku Fanda
6.Reni Judhanto
7.Evylia Hardi
8.SiMahir
9.Blog Perempuan Rumahan
10.daokt
Dan beginilah cara hitung-hitungan MLM Backlink-nya (copas dari blog SiMahir ):
Posisi kamu 10, jumlah backlink = 1
Posisi 9, jml backlink = 5
Posisi 8, jml backlink = 25
Posisi 7, jml backlink = 125
Posisi 6, jml backlink = 625
Posisi 5, jml backlink = 3,125
Posisi 4, jml backlink = 15,625
Posisi 3, jml backlink = 78,125
Posisi 2, jml backlink = 390,625
Posisi 1, jml backlink = 1,953,125
(Suatu saat, pasti blog kita akan sampai di Posisi 1 dan bayangkan jumlah backlinknya ) ditambah lagi jika pengunjung web para downline kita mengklik link itu, kita juga akan mendapatkan imbas traffik tambahan.

Tapi itu baru akan terwujud, kalau kawan-kawan mengikuti aturan mainnya. Ingat, penerima award harus mulai dari posisi 10 agar hasilnya maksimal. Karena kalau langsung nyelonong ke posisi 1, maka link kamu akan hilang begitu ada yang masuk ke posisi 10. Bukan jadi untung, malah buntung.

Akhirnya, selamat menikmati award-nya dan happy blogging..
Award

* Blog Award

Mengenang saat-saat mula Indonesia merdeka, banyak kisah heroik sekaligus unik. Seperti misalnya momentum bersejarah yang dikenal dengan nama Rapat Raksasa di Lapangan Ikada, 19 September 1945. Saat itulah secara resmi Bung Karno berpidato di hadapan lautan manusia sebagai Presiden.

Tanggal 19 September adalah “tanggal kecelakaan”. Disebut demikian karena pidato sesungguhnya, dijadwal tanggal 17 Agustus, atau genap satu bulan setelah Proklamasi Kemerdekaan di Pegangsaan Timur 56, Jakarta. Akan tetapi, mengingat situasi yang tidak kondusif, maka diundurlah “rapat raksasa” itu menjadi 19 September.

Mengapa tidak kondusif? Jepang, setelah menyerah kepada Sekutu, berperan sebagai penjaga status quo di bumi Nusantara, sampai “penguasa” yang asli, Belanda, mendarat dan melakukan ketertiban sipil. Itu artinya, segala aktivitas terkait pengerahan massa, diharamkan. Bahkan, berkumpul lebih dari lima orang, bisa diciduk dan dijebloskan penjara.

Bagaimana dengan kemerdekaan yang sudah diproklamasikan? Proklamasi hanyalah awal dari mula sebuah perjuangan hidup dan mati. Ya… “merdeka atau mati!” Babak-babak selanjutnya adalah perang mempertahankan kemerdekaan. Perang… berunding… perang… berunding….

Kembali ke “rapat raksasa” di Ikada. Ikada kependekan dari Ikatan Atletik Djakarta. Sehampar lapangan di pojok Gambir, menghadap langsung Istana Negara. Sekarang, lokasi itu menjadi Taman Tugu Monas. Pada masanya, Lapangan Ikada menjadi lokasi paling strategis untuk berkumpul dan mengerahkan massa. Di sisi lain, lokasi yang berdekatan dengan sentral kekuasaan, tentu saja masuk kategori ring satu, yang dijaga ketat dalam rentang 1.440 menit sehari.

Singkat kalimat, pagi tanggal 19 September 1945 ribuan massa sudah bergerak menuju Lapangan Ikada. Mereka datang dari seluruh penjuru kota, dan dari kota-kota lain di pinggir Jakarta. Tidak sedikit yang sudah datang ke Jakarta tanggal 18 September, dan menginap di rumah sanak saudara, sahabat, atau bahkan di masjid dan surau-surau. Mereka antusias membawa bendera merah putih hendak mendengarkan pidato dari presidennya. Sekelompok massa yang lain ingin sekadar memastikan bahwa bangsa kita sudah merdeka.

Maklumlah, proklamasi 17 Agustus 1945, tidak serta merta didengar oleh penduduk di pelosok-pelosok negeri. Bahkan warga Jakarta sendiri tidak semuanya mengetahui bahwa hari itu sudah merdeka. Selain fasilitas komunikasi yang sangat terbatas, tidak banyak pula warga Jakarta yang memiliki radio transistor. Itulah mengapa, para orangtua kita sering berkisah, zaman dulu, satu radio bisa didengar oleh warga sekampung.

Nah, kembali ke Ikada. Di sana, bala tentara Jepang sudah berjaga-jaga. Bukan saja pasukan infanteri yang berbaris menghunus senapan berbayonet, bahkan pasukan kavaleri pun menyiagakan panser-pansernya di seputar Ikada. Sinyal yang mereka kirim sangat jelas, “Massa dilarang berkumpul, atau berhadapan langsung dengan bedil dan tank.”

Massa bergeming. Sedikit pun tidak gentar dengan moncong senapan, moncong meriam, dan pasukan berseragam Jepang dengan senjata yang siap memuntahkan peluru sewaktu-waktu. Mereka terus mengalir menuju Lapangan Ikada. Rakyat berdatangan, bergelombang-gelombang, berbondong-bondong. Dalam waktu tak lama, Lapangan Ikada sudah menjadi lautan manusia. Karena itu pula, “rapat raksasa” di Lapangan Ikada itu juga dinamakan “rapat samudera”.

Di mana Bung Karno? Tidak jauh. Sangat dekat dengan Lapangan Ikada. Dia berada di salah satu gedung di Jl. Merdeka Utara (sekarang gedung Mahkamah Agung), sedang memimpin sidang kabinet yang sudah berlangsung sejak pukul 09.00. Sidang kabinet berlangsung hingga pukul 15.00, tanpa segelas teh, tanpa secangkir kopi, tanpa kue, tanpa kudapan…. Negara Indonesia belum berpenghasilan. Semua yang terlibat dalam struktur pemerintah dan alat negara, bekerja suka rela tanpa digaji. Sekalipun begitu, mereka bekerja keras menegakkan sebuah negara yang sudah diproklamasikan sebulan lalu.

Bagaimana dengan suasana di Lapangan Ikada? Massa sudah tumpah ruah sejak pagi, melewati terik siang, hingga matahari bergulir ke barat. Sebuah dapur umum disiapkan oleh para relawan putri di sudut Lapangan Ikada. Mereka merebus air, menyediakan makanan ala kadarnya, demi ribuan massa yang antusias menyambut presidennya. Semangat memastikan kemerdekaannya.

Di antara lautan manusia di Ikada dan sidang kabinet tak jauh darinya, berlangsung komunikasi antara tokoh-tokoh muda dan tentara Jepang. Negosiasi tak juga membuahkan kata sepakat. Jepang tetap melarang massa berkumpul, sebaliknya memerintahkan massa untuk segera bubar. Jika tidak, maka tentara Jepang akan membubarkan secara paksa. Dan jika itu terjadi, tentu akan banyak nyawa melayang sia-sia.

Semua komunikasi disampaikan ke meja Bung Karno dan Bung Hatta melalui secarik kertas demi secarik kertas, di tengah-tengah sidang kabinet. Bung Karno dan Bung Hatta, sesekali berisik. Materi bisik-bisik dapat dipastikan, tak luput dari situasi tegang antara lautan massa di Lapangan Ikada yang sudah berhadap-hadapan langsung dengan pasukan Jepang bersenjata.

Sekitar pukul 15.30, Bung Karno berdiri dan berkata, “Saya akan menjumpai rakyat. Saudara-saudara boleh ikut, tetapi boleh juga tidak.” Ia melangkah keluar. Anggota kabinet? Semua berjalan di belakang Sukarno. Barangkali mereka berpikir, “Jika Bung Karno berani menerjang bahaya, mengapa saya tidak?”

Di luar, sekelompok pemuda sudah menyiapkan mobil bak terbuka. Bung Karno menaiki mobil itu dan mobil dipacu ke Lapangan Ikada, membelah lautan manusia yang gemuruh mengelu-elukannya. Mobil tak bisa menerobos hingga ke dekat podium, melainkan berhenti di pojok Merdeka Timur (dekat Gedung Pertamina sekarang). Dari situ, Bung Karno dan anggota kabinet yang lain, berjalan kaki menuju mimbar.

Bala tentara Jepang kebingungan, antara perintah melarang dan –mungkin saja– gentar menghadapi Bung Karno dan massanya yang begitu heroik. Sebab, setelah Bung Karno turun dan mobil dan berjalan menuju podium, sekelompok pemuda langsung membuat pagar betis melingkari Bung Karno. Merekalah tameng hidup. Merekalah perisai bernyawa. Merekalah pagar bertulang dan berdaging, berdarah dan bernafas, yang siap menerima muntahan peluru tentara Jepang, jika itu harus terjadi.

Bung Karno menebar senyum, membalas pekik merdeka, dan menatap rakyatnya dengan penuh wibawa. Hingga kaki kanan menaiki tangga nomor satu, disusul kaki kiri di tangga nomor dua, dan seterusnya hingga ia berada di atas podium yang tingginya kurang lebih dua meter dari permukaan tanah itu, tentara Jepang hanya bisa diam dan mengawasi semua yang terjadi di depan bola matanya, tanpa bisa berbuat apa-apa. Ribuan manusia bergemuruh menyambut presidennya. Gelegar suara mereka, pastilah akan menenggelamkan suara meriam sekalipun.

“Saudara-saudara…” Bung Karno membuka kata, dan… ceppp... hening. Semua diam. Tak bersuara. Khidmat. Tenang sekali. Kemana pergiranya gemuruh suara massa? Laksana masuk dalam genggaman tangan Bung Karno.

“Saudara-saudara, kita akan tetap mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan kita. Kita tidak mndur satu patah kata pun…” begitu kalimat pertama yang diucapkan Bung Karno dengan sangat lantang, keras, menggelegar. Pertama dan mula sekali, ia memang menegaskan ihwal kemerdekaan yang sudah diproklamasikan, dan tidak akan pernah dicabut sama sekali.

Rakyat tetap khidmat, menunggu guliran kalimat-kalimat selanjutnya dari Sukarno. Di sisi lain, Bung Karno paham benar ihwal situasi tegang yang menyelimuti rapat samudera sore hari itu. Artinya, sungguh tidak tepat jika ia harus berpidato bermenit-menit, berbelas-belas menit, apalagi berpuluh-puluh menit. Kemudian ia melanjutkan pidatonya….

“Saya mengetahui, bahwa saudara-saudara berkumpul di sini untuk melihat presiden saudara-saudara dan untuk mendengarkan perintahnya. Nah, apabila saudara-saudara masih setia dan percaya kepada presidenmu, ikutilah perintahnya yang pertama….”

Massa terus menatap tajam ke arah sosok Bung Karno yang berdiri anggun di atas podium. Rasa takjub, bangga, dan bahagia telah menjadi bangsa merdeka, begitu meluap-luap di setiap dada siapa saja. Bung Karno melanjutkan kalimatnya….

“Pulanglah dengan tenang. Tinggalkan rapat ini sekarang juga, dengan tertib dan teratur, dan tunggulah berita dari para pemimpin di tempatmu masing-masing. Sekarang… bubarlah. Pulanglah saudara-saudara, dengan tenang.”

Itulah pidato pertama yang didengar rakyat usai proklamasi kemerdekaan. Itulah perintah pertama yang rakyat terima dari presidennya. Gelombang manusia segera mematuhi perintah presidennya. Mereka beringsut mundur, berjalah menyebar, dan bubar. Tertib dan teratur. Sama sekali tidak ada provokasi, dan sama sekali tak terjadi bentrokan.

Demi melihat itu semua, tentara Jepang hanya bisa menundukkan kepala. Sebagian tentara Jepang yang lain, memandangi massa yang tertib membubarkan diri dengan terbengong-bengong. Entah apa yang ada di benak mereka. Apakah bersyukur karena tidak harus “berperang” dengan rakyat berbambu runcing, atau kagum melihat “sihir” Bung Karno terhadap rakyatnya. (roso daras)

Hak pada manusia adalah hak hidup, dan bagaimanakah dengan yang namanya hidup,....
hidup yang layak sebagaimana mestinya manusia....nah ketika manusia nggak dianggap sebagai manusia tanpa kita sadari dan terus kita lalui...

pada perjalanannya, manusia malah diperbudak oleh keadaan dan waktu,kita masing masing dihukum,oleh waktu dan uang, dimana cara pandang sesama bukanlah manusianya tapi lebih pada status manusia tersebut...sebagai contoh: bagaimana seorang pengusaha mengajukan sebuah kredit di sebuah bank,dan manusia lain hanya memandang jaminan berupa sertifikat dan sebagainya, manusianya malah nomor sekian,dan bila mana si miskin berdiri sejajar dengan si kaya....orang orang malah melihat pada si kaya. bukankah itu hanya status,dan mereka toh sama sama manusia, dan jika kita mencari sebuah pekerjaan, kita akan disuguhkan seberapa banyak uang yang sanggup kita bayar..dan lagi lagi mereka tidak memandang si manusianya.

Apakah nggak ada harga sebuah kemanusian di negeri ini,....mengapa seseorang memandang pada status,..dan seberapa pentingkah status bagi manusia,..dan apakah status yang akan menunjang sebuah kehidupan bagi manusia.......dan pada kenyataanya,di sebuah negeri lain itu tidak berlaku dan kenapa disini berlaku,?....apa sih yang salah,...manusianya ataukah keadaanya.......dan sebuah pertanyaan yang nggak mungkin bisa kita jawab sendiri.....?????????????????????
?????????????????????..... >?????????????????????
?@$LJ*^%&gHGH................(&*^%&*$^$bm./;ouh :HOPY(&*^nlllj+)_*(^*%j

info aja...

Fakta-Fakta Tersembunyi SBY-JK (3): Utang Negara Membengkak 1667 Triliun
2009 Maret 24
tags: Fakta-Fakta Tersembunyi, Iklan Demokrat, indonesia, jumlah utang negara, pemerintah sby
by nusantaraku



Prakata

(Jika Anda pernah membaca artikel saya sebelumnya mengenai Iklan Penurunan BBM Demokrat dan Fakta-Fakta Tersembunyi Pemerintah SBY-JK Jilid 1 dan Jilid 2, maka silahkan langsung membaca Pendahuluan Utang artikel ini)

******

Awalnya saya sudah enggan menulis fakta-fakta yang akan memalukan iklan Partai Demokrat dan juga materi kampanye Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, Pak SBY selaku Presiden RI 2004-2009. Bagaimanapun juga, Pak SBY adalah presiden terpilih pada Pilpres 2004 dengan suara lebih 60%, sehingga kita sebagai warga negara memiliki kewajiban menghargai seorang kepala negara sekaligus kepala pemerintah Republik Indonesia. Namun, saya pun berharap bahwa SBY selaku Presiden hendaknya fair dan objektif dalam menyampaikan informasi ke publik. Jangan karena memiliki jabatan dan sekaligus kekuasaan demi partai, maka dengan enteng menyodorkan data-data yang membuat opini publik ling-lung alias “bodoh atas fakta”.

Dalam tulisan ini, saya akan membongkar fakta kebijakan Presiden (bukan pribadi presiden) dan juga kampanye SBY selaku orang partai (bukan presiden) yang jika kita mengetahuinya data yang sesungguhnya, maka kita akan bingung dengan statement para politisi Demokrat maupun Pak SBY (ingat…saya membicarakan SBY selaku Ketua Dewan Pembina Demokrat, bukan sosok Presiden). Maka, sebagai warga negara kita patut berpartisipasi dalam menegakkan hal-hal (data) yang benar. Dan jangan sampai seorang Presiden RI kembali memiliki tabiat buruk dalam menyampaikan data dan fakta pemerintahan dengan mengatasnamakan kepentingan partai dan citra. Jangan sampai suatu saat (10 tahun mendatang), rakyat menge’cap mantan presiden kita merupakan seorang lihai dalam bersilat lidah alias pembohong politik.

Atas dasar pertimbangan tersebut, maka saya ingin penguasa negeri ini (terutama politisi Demokrat) agar lebih bermoral dalam menyampaikan iklan politik. Sindiran dan kata-kata halus tampaknya tidak dapat dimengerti dengan mudah oleh para politisi Demokrat yang katanya cerdas. Sehingga sayapun telah menulis berbagai tulisan kritik atas iklan-iklan Demokrat yang cenderung manipulatif secara opini-data. Beberapa tulisan keprihatinan saya adalah Iklan Penurunan BBM SBY dan Demokrat yang Busuk secara informasi data pada pertengahan Desember 2008. Lalu iklan Demokrat tentang prestasi “naik-turun” yang memenuhi berbagai media saya sanggah melalui berbagai fakta tersembunyi dalam dua bagian yakni Fakta-Fakta Tersembunyi Pemerintahan SBY-JK (1), dan Fakta-Fakta Tersembunyi Pemerintah SBY-JK (2). Dua bagian tulisan terakhir berisi tentang fakta-fakta pertumbuhan ekonomi, tingkat inflasi, jumlah angka kemiskinan, harga minyak, harga kebutuhan pokok, stabilitas nilai tukar rupiah, dan privatisasi ala “SBY-JK”.

Disamping itu, tulisan ini juga kritik saya bagi semua parpol dan para capres yang lebih banyak berjanji ria, ketimbang memiliki visi dan misi yang jelas bagi penyelamatan negeri, melakukan tindakan nyata. Bukan mengeluarkan puluhan hingga ratusan miliar rupiah dengan iklan-iklan yang tidak mendidik.

******
Pendahuluan Utang

Banyak orang memiliki pandangan bahwa selama pemerintah SBY yang didukung Demokrat (seperti iklannya) bahwa jumlah utang Indonesia berkurang. Tidak sedikit beberapa pengunjung blog saya meninggalkan komentar dengan mengatakan SBY dan Sri Mulyani berhasil mengurangi utang Indonesia. Begitu juga iklan-iklan Demokrat yang dengan bangga menampilkan Indonesia berhasil keluar dari utang IMF. Hal senada ketika kampanye partai Demokrat 2009, SBY mengklaim ia berhasil mengurangi utang (IMF). Namun, benarkah utang kita berkurang? Benarkah utang luar negeri sudah lunas? Benarkah pemerintah saat ini bebas dari mental pengutang? Benarkah SBY-JK menyelesaikan tugasnya dengan jumlah utang negara berkurang?

Semua pertanyaan tersebut akan terjawab dengan jelas. Namun, sayang media jarang menyampaikan fakta-fakta perkembangan utang Indonesia selama pemerintah SBY yang didukung terus Demokrat (mendukung utang? mendukung kapitalis?).
SBY Tambah Utang Indonesia dari 1275 menjadi 1667 Trilun dalam 4 Tahun

Saya kurang tahu, apakah kader-kader Demokrat tidak pernah mengakses data Dirjen Pengelolaan Utang – Departemen


SBY

Keuangan RI yang secara jelas merilis jumlah utang Indonesia sejak 2001 hingga 2009 (www.dmo.or.id). Dan bagi simpatisan “fanatik” partai Demokrat, maka saya anjurkan untuk mengakses data utang negara Indonesia. Setelah itu, survei kronologis harga minyak dunia dengan harga premium. Lalu, survei kronologi seberapa kapitalis Indonesia dengan program privatisasi perusahaan-perusahaan BUMN strategis, kebijakan Bencana Lumpur Lapindo yang merugikan negara hingga 2 triliun lebih (melalui Perpres).

Berikut jumlah total utang Indonesia (2001-2009)
2001 : Rp 1263 triliun
2002 : Rp 1249 triliun
2003 : Rp 1240 triliun
2004 : Rp 1275 triliun
2005 : Rp 1268 triliun
2006 : Rp 1310 triliun
2007 : Rp 1387 triliun
2008 : Rp 1623 triliun
2009 : Rp 1667 triliun (Januari)

Sumber : Perkembangan Utang Pemerintah 2001-2009 (DMO)

Perkembangan Utang Dalam Negeri Indonesia 2004-2009
2004 : Rp 662 triliun
2005 : Rp 656 triliun
2006 : Rp 748 triliun
2007 : Rp 801 triliun
2008 : Rp 906 triliun
2009 : Rp 920 triliun

Cat: Utang dalam negeri berbentuk Surat Utang Negara termasuk surat utang berbentuk syari’ah


Dari data utang Indonesia di atas, maka ada beberapa fakta yang perlu ditelaah:
Pemerintah SBY “berhasil” membawa Indonesia kembali menjadi negara pengutang dengan kenaikan 392 triliun dalam kurun waktu kurang 5 tahun. Atau peningkatan utang negara selama pemerintah SBY naik rata-rata 80 triliun per tahun. Angka penambahan jumlah utang rata-rata ini mengalahkan utang di era Pak Harto yakni 1500 triliun dalam jangka 32 tahun.
Selama 3,5 tahun memimpin Indonesia, Megawati menambah jumlah utang Indonesia sebesar Rp 12 triliun atau rata-rata naik sekitar Rp 4 triliun per tahun. Angka ini jauh lebih kecil dibanding SBY yakni 80 T per tahun.
Mental (secara kuantitatif) berutang pemerintah SBY 20 kali lebih besar (80 T dibagi 4 T) dibanding pemerintah Megawati.
Kronologi BLBI dan 4X Indonesia Dirampok!

Menurut Ridwan Baek, JK menyadari tak mungkin lagi jadi ketua umum periode berikutnya.

VIVAnews - Ridwan Baek, Ketua Dewan Pimpinan Daerah I Golkar Sulawesi Tenggara, menilai Jusuf Kalla sudah tak mungkin lagi menjadi Ketua Umum Golkar untuk periode 2009-2014. Ridwan menyampaikan itu usai bertemu Jusuf Kalla di kantor Wakil Presiden, Jakarta.

Dalam pertemuan itu, Ridwan menyatakan Jusuf Kalla akan bersikap objektif dalam Musyawarah Nasional Golkar yang membahas suksesi itu. Namun JK juga menyatakan siap menjadi bagian dari upaya membangkitkan kembali kebesaran Golkar dalam Pemilu 2014 nanti.

"JK menawarkan diri untuk mempertahankan diri untuk mengarah ke sana. Dia sudah tidak mungkin lagi jadi Ketua Umum Partai Golkar periode ini tapi sebagai bagian dari kekuatan Golkar ke depan, itu bukan sesuatu yang mustahil," kata Ridwan, Jumat 10 Juli 2009.

Upaya mengembalikan kejayaan Golkar itu akan dibahas pertama kali Rapat Pimpinan Nasional Khusus dalam waktu dekat. Rapimnassus ini melakukan evaluasi atas hasil Pemilu dan Pemilihan Presiden 2009.

"Kemudian yang tidak kalah pentingnya adalah menata apa yang harus dilakukan berdasarkan pengalaman-pengalaman untuk pemenangan Pemilu 2014 nanti," ujar Ridwan. "Kami berharap kami mampu kembalikan kemenangan Golkar, dari yang terendah menjadi pemenang 2014. Itu konsepnya."

Jika berada pada situasi yang memicu amarah, luangkan waktu 3 menit dan jalani gerakan ini...

Rasanya, jika ada yang memancing amarah menjelang akhir pekan bisa bikin hati Anda kesal. Apalagi kalau suasana hati buruk ini bisa mengganggu konsentrasi Anda bekerja. Agar marahnya tidak berlanjut, ada triknya untuk meredam emosi dan mengembalikan mood baik Anda.

Jika Anda berada pada situasi yang mampu memicu amarah, sehingga menyebabkan stres, Lynda Field, psikoterapis asal Inggris menyarankan agar mencoba pernapasan ala ‘Square Breathing’ yang bermanfaat membuat Anda berpikir lebih jernih. Jadi, luangkan waktu 3 menit dan jalani gerakan berikut!

- Dalam keadaan relaks (posisi duduk atau berdiri), tarik napas secara perlahan, sambil menghitung 5 hitungan.
- Tahan posisi selama 5 detik.
- Lalu, perlahan buang napas sambil menghitung 5 hitungan.
- Tahan posisi selama 5 detik sebelum Anda menarik napas kembali.
- Ulangi gerakan sebanyak 8 kali.

Alhasil, perasaan Anda akan lebih tenang dan mampu berkonsentrasi lebih baik.

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda