Blogger Template by Blogcrowds

Jakarta: Sidang sengketa hasil Pemilihan Umum Presiden 2009 akan digelar Mahkamah Konstitusi di Gedung MK, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Selasa (4/8), pukul 14.00 WIB. Sebagai pihak pemohon adalah pasangan calon presiden dan calon wakil presiden Jusuf Kalla-Wiranto dan Megawati Sukarnoputri-Prabowo Subianto. Sementara pihak Komisi Pemilihan Umum sebagai termohon.


Anggota tim sukses pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono, Ruhut Sitompul, sudah terlihat hadir di Gedung MK sejak pagi tadi. Di persidangan ini, kubu SBY-Boediono juga dipanggil sebagai pihak terkait. Menyinggung gugatan kubu JK-Win dan Mega-Pro, Ruhut mengatakan pihak SBY-Boediono juga dirugikan.

Kubu JK-Win dan Mega-Pro mengajukan gugatan hasil pemilihan presiden yang dinilai banyak kecurangan. Pihak JK-Win mengajukan bukti kecurangan, yakni salinan Daftar Pemilih Tetap (DPT) dari KPU, dan pengurangan sejumlah Tempat Pemungutan Suara (TPS) di kantong-kantong JK-Win. Selain itu, kubu JK-Win juga mengajukan bukti adanya pemilih ganda, dan pencontrengan satu orang untuk banyak orang [baca: Hari ini Tim Mega-Prabowo ke MK].(AIS/LUC)

Bom bunuh diri JW Marriott dan The Ritz Carlton (17/7/2009) menyisakan beragam kegelisahan. Selain telah melahirkan stigma membawa Islam sangat dekat dengan teroris, peristiwa tersebut kian memosisikan bangsa ini dalam zona subordinat di tengah bangsa-bangsa di dunia.

Bangsa ini dianggap sebagai negara rawan teror dan pada gilirannya terkesan menakutkan bagi siapa pun yang ingin berkunjung. Dampaknya tak sekadar traumatis, melainkan berefek pula pada kian rapuhnya bangunan sosial-ekonomi dalam skala mikro maupun makro.

Berkembang pelbagai asumsi, nama-nama seperti Noordin M Top serta Nur Hasbi dan Ibrahim bersinggungan dengan pesantren. Asumsi tersebut telah melahirkan stigma pesantren dekat dengan teroris. Apakah memang demikian? Tulisan ini bermaksud untuk menegasi asumsi dan stigma tersebut.

Kontestasi Kebenaran

Jika benar bahwa stimulasi ideologisnya adalah Islam, para pelaku bom bunuh diri melegitimasi diri sebagai orang-orang yang berjihad di jalan Allah (al-jihad fi Sabilillah). Dari sini secara sepintas muncul penilaian terhadap Islam yang berpretensi negatif.

Islam lantas dipandang sebagai agama yang stereotip dan stigmatis. Stigmatisasi terhadap Islam sebagai agama teror sesungguhnya telah muncul sejak beberapa dekade lalu sebagai bagian dari pertarungan wacana nilai antara Barat dan Timur. Hal ini paling tidak telah menjadi kritik yang dilontarkan oleh seorang pemikir Palestina yang tinggal di Amerika Serikat, Edward William Said, dalam karya monumentalnya The Orientalism.

Said dan sarjana muslim lain menilai adanya kesengajaan labelisasi negatif terhadap Islam sebagai tahap lanjut penjajahan pola pikir. Namun sarjana lain semisal Fazlur Rahman membenarkan adanya potensi radikalisme dalam ajaran Islam, tergantung dari sisi mana Islam digali dan didalami, laiknya ajaran agama lain yang selalu menyimpan saripati eksklusivitas di dalam dirinya (pembenaran sepihak). Pada posisi demikian, mendalami Islam mesti menyadari adanya dua potensi berbeda. Potensi pertama menampakkan sisi "keras".

Dia lebih banyak diwarnai rona konfliktual dalam konteks tarik ulur klaim kebenaran. Hampir semua agama mempunyai sejarah kelam ini. Kontestasi klaim kebenaran ini pada gilirannya mendorong sebagian kelompok agama menyandarkan perilakunya kepada perintah Tuhan. Inilah yang juga terjadi di kalangan muslim beraliran "keras" yang menjustifikasi bom bunuh diri sebagai bagian dari perang suci melawan kaum kafir. Hal seperti ini juga terjadi pada agama-agama lain.

Potensi kedua mendedahkan sisi "lunak"di mana substansi ajaran selalu dimuarakan pada optimisme berkehidupan dengan penonjolan nilai-nilai humanisme, penghargaan atas perbedaan dan kerukunan. Dialog menjadi salah satu metode penting dalam hal menyikapi pelbagai kontradiksi ajaran. Dialog dianggap sebagai sebuah elegansi mencari substansi kebenaran tanpa ada kekerasan seperti dalam elegansi tutur sapa Alquran wa jaadil hum billati hiya ahsan (berdebatlah dengan santun untuk orientasi kebaikan).

Tarik ulur antara sisi "keras" dan sisi "lunak" telah mendominasi khazanah Islam dari zaman dahulu, baik dalam konteks hukum (al-ahkam al-fiqhiyah), keyakinan (al-aqidah al-islamiyah) maupun dalam hal eksplorasi spiritualitas (at-tashawwuf). Dalam hal penafsiran Alquran, misalnya, terdapat dominasi dua kutub yang saling dipertentangkan, yaitu antara pihak salafi dengan khalafi, demikian seterusnya.

Para pelaku bom, dalam segala modusnya, menganut sisi "keras" dalam ajaran Islam ini. Apapun pilihan penggalian ajaran semuanya tidak ada yang salah. Namun, yang tidak dibenarkan adalah pilihan gerakan mengimplementasi ajaran dalam bentuk yang justru kontraproduktif dengan kemanusiaan.

Faktor Pendidikan Islam

Penyikapan kehidupan dalam domain apa pun tak dapat dilepaskan dari basis pendidikan semenjak kecil sebagai bentuk dari internalisasi nilai keagamaan.

Sejarah keberagamaan di Indonesia mencatat bahwa dunia pesantren telah banyak memberi kontribusi besar hadirnya para syuhada pembela Tanah Air sebagai pasukan berani mati untuk kemerdekaan Indonesia. Keberanian berjihad membela Tanah Air memang tak dapat dilepaskan dari doktrin yang diajarkan oleh para ustaz dan kiai di pesantren. Di titik ini terpahami bahwa pendidikan menjadi faktor utama pembentukan karakter.

Memang masih ada sedikit pesantren yang mengajarkan pola pendidikan dengan metode ceramah yang cenderung dogmatis dan hitam-putih tanpa memberikan alternatif pilihan lain. Berbagai faktor inilah yang mungkin menjadi salah satu alasan penting mengapa Ngruki mampu melahirkan alumni yang "berbeda". Warna "keras" ini semakin kentara ketika berlangsung pembelajaran dengan merujuk karya tokoh "keras" Islam yang lahir di era "kegelapan" Islam dan kolonialisasi Eropa yang tentunya sangat mempengaruhi karakter santri.

Di antara kitab itu adalah Tarbiyah Jihadiyah, Jundullah, Ma'alim fi al-Thariq, Al-Wala' wa al- Bara', dan lain-lain. Atau pemikiran tokoh pergerakan Islam akhir abad ke-19 semacam Fathi Yakan, Sayyid Qutb, Hassan al-Banna, Said Salim al-Qahthani, Ibn Taimiyyah, Abdullah Azzam, Jamaludin Alafghani, dan sejenisnya. Nah, sebagai perimbangan wacana keras dalam pesantren, desain pendidikan agama, baik di pesantren maupun pendidikan umum, mutlak diberi substansi nilai humanisme, kerukunan, penghargaan atas perbedaan dan pembiasaan dialog.

Dalam tradisi ilmiah pesantren NU terdapat istilah bahtsul masail, kajian berupa diskusi (dialog) membahas beragam fenomena kehidupan dikupas dalam perspektif agama. Ini menjadi alternatif tradisi yang bisa ditumbuh-kembangkan terus-menerus. Pengenalan dan internalisasi nilai Islam rahmatan lil ?alamin atau biasa disebut dengan Islam moderat seperti yang dilaksanakan oleh pesantren di lingkungan Nahdlatul Ulama perlu dikembangkan.

Pesantren-pesantren tersebut selalu mengembangkan nilai humanisme dan nasionalisme yang, paling tidak, terdapat tiga komponen substansi Islam yang niscaya dipahami. Pertama, ukhuwah basyariyah (persaudaraan antarmanusia). Islam menganggap bahwa seluruh umat manusia, tanpa harus membedakan suku, ras,warna kulit dan bahkan agama, adalah saudara yang harus dilindungi dan saling melindungi. Islam mengharamkan penganiayaan terhadap orang lain di luar Islam dan meniscayakan hormat-menghormati dan toleransi.

Kedua, ukhwah wathaniyah (persaudaraan antarbangsa). Kerja sama antarbangsa mesti dijalin sebaik mungkin dalam rangka menuju perdamaian dan kesejahteraan dunia. Hubungan bangsa-bangsa ini tanpa membedakan latar belakang agama bangsa tersebut. Demarkasi kultural, teologis, dan struktural, pada wilayah ini musti didialogkan dan diupayakan pola relasi saling menguntungkan satu dan lainnya. Ketiga, ukhuwah Islamiyah (persaudaraan antarumat Islam). Sejarah peradaban Islam diwarnai oleh perbedaan corak pandang keberagamaan, baik domain teologi, hukum maupun spiritualitas.

Perbedaan tersebut memang kerap menimbulkan ketegangan di internal umat Islam. Namun tak sedikit pula ketegangan dan perbedaan itu dapat diselesaikan dengan damai dan musyawarah (dialog). Pada akhirnya, memahami substansi ajaran Islam dengan niat menemukan kebenaran dan persinggungan rabbani (ketuhanan) mutlak dilakukan dengan saling membuka diri dan membuka hati agar tidak "salah kaprah" memahami ajaran Islam dari perspektif kekerasan dan antihumanisme.

Pembelajaran nilai Islam rahmat dalam sistem pendidikan Islam diharapkan menjadi terapi bagi konstruksi Islam antiteroris. Wallahu a'lam.(*)

Dr Ali Masykur Musa
Anggota FPKB DPR RI dan Ketua Umum Keluarga Alumni Universitas Jember

AKARTA - Pelantun 'Tak Gendong' Mbah Surip meninggal dunia di Rumah Sakit Pusdikkes Ditkesad, pagi tadi pukul 09.00 WIB, Selasa (4/8/2009).

Hal tersebut dibenarkan petugas Unit Gawat Darurat Pusdikkes saat dikonfirmasi okezone. "Iya dia datang ke sini, langsung meninggal. Tidak sempat dirawat," petugas wanita yang tidak mau disebutkan namanya ini.

Dia mengungkapkan, pemilik nama Urip Ariyanto ini datang ke rumah sakit ini sekira pukul 08.30 WIB. Dan langsung dilarikan ke UGD. Kemudian sekira pukul 10.30 WIB, dinyatakan meninggal dunia.

Namun, petugas UGD tersebut tidak mau menyebutkan apa penyebab meninggalnya Mbah Surip. "Silakan tanya ke keluarga saja," pungkasnya.

(uky)

Tawaran Tebusan Sudah Mencapai Rp 8,8 miliar


Jakarta - 4 Bulan sudah, 11 warga negara Indonesia (WNI) disandera bajak laut Somalia. Mereka kini ditahan di sebuah pulau milik para kriminal bersenjata itu. Negosiasi untuk pembebasan masih terus dilakukan.

"Negosiasi masih berlanjut antara pemilik kapal dan para pembajak. Kita memonitor terus," kata Direktur Perlindungan WNI Teguh Wardoyo saat dihubungi melalui telepon, Senin (13/4/2009).

Namun menurut Teguh, kondisi para WNI itu dalam keadaan sehat dan mereka juga terjamin kondisinya.

"Pihak Kedubes kita di Yaman selalu memberikan suplai makanan 5 hari sekali," jelas Teguh.

Informasi diperoleh, para pembajak meminta tebusan hingga jutaan dollar. Tapi kini pemilik kapal baru menyanggupi US$ 800 ribu atau Rp 8,8 miliar.

Para pembajak ini tinggal di sebuah pulau dekat perairan itu, di mana seluruh aparatnya terlibat dalam aksi kriminal ini. Memang aksi para pembajak ini sudah menjadi bisnis di kawasan itu.

11 WNI itu ditawan pada awal Desember 2008 lalu. Mereka adalah awak kapal Malaysia bernama 'Shippping Malaysian Bhd', milik perusahaan Malaysia yang berpusat di Port Klang.

(ndr/iy)

Jakarta - Ketua MPR Hidayat Nur Wahid meminta Departemen Luar Negeri (Deplu) segera memanggil Duta Besar (Dubes) Mesir di Indonesia untuk dimintai keterangan seputar penangkapan 4 mahasiswa Indonesia di Mesir. Hidayat berharap keempatnya segera dibebaskan.

"Masalahnya mengganggu konsentrasi belajar para pelajar Indonesia di Mesir sebaiknya pemerintah Indonesia melalui Deplu memanggil Duta Besar Mesir," kata Hidayat di ruangan kerjanya, Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (6/7/2009).

Hidayat menilai motif penangkapannya aneh. Menurut Hidayat, selama ini kaum Hamas selalu membantu Mesir. Beberapa lini kehidupan rakyat Mesir juga dipenuhi orang Hamas.

"Ketika isu terorisme mereda kok ada masalah baru di Mesir. Itu kan aneh dalam konteks Mesir, apa salahnya orang punya foto Hamas, di Mesir banyak warga Hamas," ujar Hidayat.

Hidayat khawatir apabila kejadian serupa terus terjadi, bisa jadi pelajar Indonesia menjadi takut belajar di luar Negeri.

"Jangan sampai pelajar Indonesia menjadi enggan belajar di luar negeri," kata politisi PKS ini.

Hidayat berharap pemerintah bekerja maksimal memberi jaminan keamanan pelajar di luar negeri.

"Ini permasalahan yang pemerintah Indonesia harus melindungi dengan sangat serius, saya harap Deplu segera mengambil langkah efektif pembebasan dan untuk menanggulangi agar masalah serupa tidak terjadi lagi," papar Hidayat.

(van/aan)

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda