Blogger Template by Blogcrowds

Dari hasil-hasil penelitian para ahli, maka periode jaman Bali kuna ditetapkan dari abad IX sampai dengan abad XIV, karena pada kurun waktu ini pengaruh Majapahit belum ada walaupun pengaruh Jawa sudah masuk ke Bali. Batas antara Bali Kuna dengan Bali yang kita kenal sekarang sebagai pewaris budaya kerajaan Majapahit disepakati oleh sejarawan sejak jatuhnya kerajaan Bedahulu di bawah pemerintahan Sri Asta Sura Ratna Bumi Banten adalah tahun 1364. Jelas merupakan suatu periode yang masih perlu diperbincangkan, tetapi pemikiran historis bahwa penetapan itu berdasarkan atas sumber-sumber tertulis yang ada. Sumber-sumber tertulis dalam bentuk prasasti-prasasti mengenai Bali, baru diketahui sejak abad IX, dan dari hasil-hasil penelitian para ahli yang ingin mengetahui sejarah Bali secara lebih mendalam, jatuhnya Sri Asta Sura Ratna Bumi Banten dianggap sebagai munculnya budaya Baru yang di bawa oleh penguasa Majapahit ke Bali. Peneliti-peneliti asing yang banyak memperbincangkan sejarah Bali antara lain: Dr. H.N. van der Tuuk dan Dr. J.L.A Brandes menemukan prasasti Blantih dan prasasti Klandis pada tahun 1885, dan pada tahun 1890 kedua peneliti ini menemukan beberapa Parasti di desa Julah yang sekarang disimpan di desa Sembiran yang disebut dengan prasasti Julah. Penelitian mengenai prasasti Bali kemudian dilanjutkan oleh Dr. P.V van Stein Callenfels, yang hasilnya diterbitkan dalam Ephigrafia Balica tahun 1926. Pada tahun 1928 Dr. W.F Stutterheim di Pura Sibi. Desa Kesian, Gianyar yang kemudian hasilnya diterbitkan dalam sebuah buku yang berjudul Ouheden van Bali (1929). Kemudian Dr. R. Goris melanjutkan penelitian tersebut di atas serta membukukan prasasti-prasasti tersebut dengan Judul Prasasti Bali I dan Prasasti Bali II pada tahun 1954 ( Kartodirdjo, 1976:129-186). Prasasti pertama yang berhasil ditemukan berangka tahun 804 saka, yang isinya adalah ijin kepada beberapa bhiksu untuk membangun pertapaan di Bukit Kintamani, kemudian prasasti yang berangka tahun 818 saka pemberian ijin kepada beberapa bhiksu untuk membangun kuil Hyang Api di desa Banua Bharu. Prasasti Trunyan yang berangka tahun 813 saka adalah pemberian ijin untuk membangun kuil Bhatara Da Tonta. Hal ini menunjukan bahwa pengaruh India sudah masuk ke Bali melalui ajaran agama dan ajaran agama itu menuntut dibangunnya tempat-tempat pemujaan, sehingga ijin untuk membangun tempat pemujaan dapat diasumsikan bahwa agama yang datang ke Bali telah mengekpresikan kebudayaannya melalui berbagai jenis dan bentuk kesenian. Misalnya muncul arsitektur bangunan suci, sistem pemujaan, serta berbagai bentuk kesenian seperti seni patung (arca), seni tari, kerawitan dan pedalangan. Prasasti itu juga memberikan petunjuk bahwa budaya Hindu sudah ada di Bali sebelum jatuhnya Bali ketangan Majapahit. Prasasti Blanjong yang berangka tahun 835 saka berisi tentang kemenangan raja Sri Kesari Warmadewa, dan juga menyebutkan istananya terletak di Singadhwalawa, kemudian pada tahun 837 menyebutkan nama raja Sri Ugrasena yang kemudian dilanjutkan oleh raja Tabanendra pada tahun 877-889 saka, tetapi pada tahun 882 muncul sebuah prasasti yang menyebut nama Jayasinga Warmadewa. Setelah pemerintahan raja Jayasinga Warmadewa tahun 897 ditemukan lagi nama raja Jaya Sadu Warmadewa. Setelah pemerintahan Dinasti Warmadewa, munculah dinasti Udayana yang memerintah bersama istrinya yaitu Gunaprya Dharmapatni, yang lebih dikenal dengan Mahendradata pada tahun 923 saka. Udayana mempunyai tiga orang anak yaitu Airlangga, Marakatta, dan Anak Wungsu. Airlangga kemudian memerintah di Jawa Timur, sehingga tahta pemerintahan Udayana dilanjutkan oleh Marakatta (944 – 971saka). Setelah Marakatta pemerintahan dilanjutkan oleh Anak Wungsu (971-999 saka). Setelah dinasti Udayana muncul nama raja Sri Walaprabu (1001-1010 saka), kemudian muncul nama raja Sakalendukirana 1010 – 1023 saka), dilanjutkan oleh Sri Suradipa (1037-1041), kemudian Bali diperintah oleh Sri Jayasakti (1055 – 1072 saka), kemudian Ragajaya (1077 saka) dan pemerintahan dilanjutkan oleh Sri Jayapangus (1099-1103 saka). Setelah pemerintahan Sri Jaya Pangus Bali diperintah oleh Eka Jaya Lencana (1122 saka), kemudian dilanjutkan oleh Hyang Adidewa Lencana 1182. Setelah pemerintahan Adidewa Lencana Bali dikuasai oleh Raja Singosari yaitu Kerta Negara. Setelah hancurnya Singosari, di Bali muncul nama raja Sri Maharaja Bhatara Mahaguru Dharmottungga Warmadewa (1247). Munculnya dinasti Warmadewa kembali menarik perhatian bagi peneliti sejarah karena unsur nama Warmadewa sudah lama hilang pada raja-raja Bali (Ibid., p. 187 ). Pada tahu 1259 saka, Bali diperintah oleh Sri Asta Sura Ratna Bumi Banten yang dianggap sebagai raja penganut aliran Tantrayana dan menganggap dirinya adalah Tuhan. Dari penjelasan prasasti tersebut dapat dibuktikan bahwa di Bali telah ada system pemerintahan, struktur kenegaraan, serta system kepercayaan yang merupakan emberio dari agama Hindu yang kita anut sekarang. Prasasti-prasasti tersebut kemudian dikumpulkan oleh Dr. R Goris dalam sebuh buku yang diberi judul Prasasti Bali I dan Prasasti Bali II. Prasasti ini disamping memuat dinasti dari raja-raja yang berkuasa di Bali juga memuat mengenai masalah perpajakan, perundagian, pertanahan, juga memuat berbagai jenis kesenian yang ada pada jaman Bali Kuna. Jenis-Jenis kesenian tersebut antara lain: patapukan, pamukul, menmen, abanwal, abonjing, bangsa, anuling, pasangka, parbwayang, aringgit, dan parpadaha. Semua istilah ini adalah istilah seni misalnya: partapukan (pertunjukan topeng), pamukul (pemukul gambelan), menmen (topeng), abanwal (badut atau bondres), abonjing (angklung), anuling (suling), pasangka (peniup trompet), parbwayang (pertunjukan wayang), parpadaha (permainan kendang), aringgit (pertunjukan wayang). (Goris, 1954:125 ). Disamping sumber-sumber prasasti seni pertunjukan akan dapat diamati melalui data-data berupa relief-reliaf candi, dan seni arca-arca maupun alat-alat kesenian dari prunggu seperti nekara Pejeng yang dapat dianggap sebagai alat musik dan reliefnya juga menggambarkan data-data kesenian. Ketika kita mengamati sikap-sikap tangan dan kaki pada seni arca batu, kita akan dapat membayangkan bahwa sikap tangan dan kaki dari arca itu menggambarkan gerak tari. Hal ini menunjukan bahwa Tari sebagai sebuah hasil kreativitas seni tidak hanya ada ketika ditemukannya prasasti tetapi lebih jauh dapat dianggap sebagai hasil kebudayaan zaman Megalitik. Sumber sumber kesenian ketika Bali ditaklukan oleh kerajaan Majapahit, tidak hanya dapat diamati melalui prasasti dan seni arca juga mulai diabadikan melalui penulisan babad dan pemancangah serta plutuk-plutuk bebantenan. Oleh I Gusti Ngurah Seramasara

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda